Tolak Aktivitas Pertambangan di Pulau Laut

Penulis : Admin


Tanggal Posting : 08 Mei 2018 05:09 | Dibaca : 249


#SavePulauLaut

Gelombang dukungan terhadap penolakan aktivitas tambang di Kecamatan Pulau Laut Kabupaten Kotabaru terus berdatangan, hal ini dilakukan untuk mendorong Kecamatan Pulau Laut bebas dari pertambangan yang sangat merugikan. Penambangan di pulau kecil sudah pernah terjadi di Pulau Sebuku, Kotabaru. Hasilnya, lingkungan di sekitarnya rusak parah dan sangat merugikan masyarakat. 

Gubernur secara tegas mendukung penolakan tambang di Pulau Laut karena daerah itu merupakan pulau kecil. Gubernur juga sudah mengeluarkan surat rekomendasi penolakan itu, namun Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Banjarmasin menerbitkan putusan sela yang meminta Gubernur Kalsel Sahbirin Noor menunda pemberlakuan tiga SK pencabutan IUP Sebuku Group dalam sidang, akan tetapi Pemprov Kalsel tegas melawan secara hukum putusan tersebut, Pemprov Kalsel akan mengajukan bukti-bukti tambahan untuk memperkuat dasar hukum pencabutan tiga izin tersebut.

Setiap kegiatan ekplorasi dan atau eksploitasi sumberdaya alam pasti memberikan dampak negatif dan positif pada lingkungan hidup. Atau Ekplorasi dan atau eksploitasi sumberdaya akan meningkatkan atau menurunkan kondisi Daya Dukung Daya Tampung (DDDT) Lingkungan Hidup. Pada tahun 2010 menurut Balai Penelitian dan Pengembangan Daerah tercatat sebanyak 550 titik kejadian banjir di seluruh provinsi Kalimantan Selatan. Hasil kajian Kementerian Lingkungan Hidup pada tahun 2015 keadaan Indeks Kualitas Lingkungan Hidup provinsi Kalimantan Selatan berada pada urutan ke-26 dari 33 provinsi di seluruh Indonesia dengan nilai 57.51.

BLHD Kalsel juga mencatat bahwa kualitas air sungai tahun 2015 di 10 (sepuluh) sungai yang dipantau provinsi Kalimantan Selatan umumnya mengalami cemar ringan sampai cemar sedang kecuali sungai Negara di Kabupaten Hulu Sungai Selatan mengalami cemar berat. Kondisi kualitas udara pada 13 kabupaten/kota pada areal pemukiman, perkantoran dan transportasi untuk parameter kebisingan dan NO2 melebihi batas ambang yang ditentukan. Selain itu kondisi Daya Dukung Daya Tampung (DDDT) provinsi Kalimantan Selatan pada tahun 2017 sangat rendah seluas 662.699,81 ha (17,56%), rendah seluas 1.336.062,14 ha (35,40%), atau 52,97% DDDT rendah-sangat rendah.

 

Adapun Kondisi Pulau Laut dan Point Kerusakan Lahan akibat tambang diantaranya :

  • Tingkat Daya Dukung Daya Tampung (DDDT) LH Pulau Laut sangat rendah seluas 29.394.7 ha (14,2%), rendah seluas 76.828,4 ha (37,1%), sedang seluas 48.465 ha (23,4%), tinggi seluas 51.307,2 ha (24,8%) dan 903,2 ha (0,4%).
  • Potensi tingkat DDDT LH khusus di Pulau Laut, Kabupaten Kotabaru dari rendah hingga sangat rendah mencapai 106.223,1 ha atau 51,3 persen.
  • Semua perusahaan IUP di Pulau Laut memiliki tingkat DDDT sangat rendah-rendah yang melebihi 50%, perusahaan PT Sebuku Sejaka Coal memiliki 44% areal yang memiliki tingkat DDDT yang tinggi.
  • BPost, 2016 & 2018, mengatakan telah terjadi krisis kekurangan air bersih. Kebutuhan kotabaru mencapai 1,5 juta m3. Dua embung yang tersedia dalam keadaan normal hanya mampu mensuplai 500ribu m3

Sedangkan keadaan DAS dan Debit Sungai di Pulau Laut :

  • Pulau Laut terbagi dalam 6 sub-DAS dengan kriteria dipulihkan (Balai Pengelolaan DAS Barito, 2014). Menurut Balai Pengelolaan DAS Barito, 2013 bahwa lahan kritis di Pulau Laut mencapai 48.740,9 hektar (23,3%).
  • Potensi Sumberdaya Air (Debit Air) Tahun 2011 diperoleh debit air rata-rata:
  1. DAS Berangas sebesar 0,053 m3/det atau 137.376 m3/bln
  2. DAS Teluk Mesjid/Sertaka Tengah sebesar 0,061m3/det atau 158.112 m3/
  3. DAS Sungai Limau sebesar 0,065m3/det atau 168.480m3/bln
  4. DAS Gedambaan sebesar 0,068 m3/det atau 176.256 m3/bln
  5. DAS Jupi sebesar 0,098m3/det atau 254.016m3/bln
  6. DAS Sebelimbingan sebesar 0,133m3/det  atau 344.736m3/bln
  7. DAS Sungup sebesar 0,357m3/det atau 925.344 m3/bln
  8. DAS Gemuruh sebesar 0,015 m3/det atau 38.88 m3/bln
  • Tahun 2010, DAS Seratak sebesar 0,6 - 0,7 m3/det

"Bagaimana nasib anak-anak dan cucu-cucu kita nantinya, apakah merasakan manfaat dari sektor pertambangan sebagai sumber daya alam negerinya ataukah hanya mewarisi kerusakan dan sumber daya alam yang terkuras habis" 


Link Terkait